Architektur Blogger Headline Animator

Architektur Blogger

rss

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

October 25, 2010

Peta Dunia Islam Abad Pertengahan

Di tengah peta adalah dua kota suci Islam: Mekah dan Madinah. Peta ini menunjukkan Cina dan India di utara dan "sekte Kristen dan negara Byzantium" di selatan. Lingkaran luar mewakili laut. Naskah merupakan kosmologi, tidak dimaksudkan untuk menjadi akurat secara geografis, tapi hanya untuk menyajikan pembaca dengan gambaran sistematis dari pengetahuan yang ada tentang dunia pada saat itu.

 Peta Dunia Islam Abad Pertengahan

July 7, 2010

Mengapa Mata Uang Indonesia Itu Rupiah

Sepintas Tentang Mata Uang Indonesia "Rupiah" (Rp)

Pernahkah kita berpikir mengapa Indonesia menggunakan nama mata uang rupiah? Ternyata, perkataan "rupiah" berasal dari kata "Rupee", satuan mata uang India.

 
Sebelum menggunakan Rupee, Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, pemerintah kolonial memperkenalkan mata uang baru, yakni Gulden Hindia Belanda.

Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu pendudukan Jepang pada Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti.

Mata uang Gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak juga berlaku pada masa itu. Sejak 2 November 1949, empat tahun setelah merdeka, Pemerintah Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru. Namun, mata uang itu belum dipakai secara utuh di seluruh nusantara.

Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri, tetapi penggunaan variasi rupiah dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat. Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan Gulden Hindia Belanda, sehingga dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial.


Temuan Arkeologi Di Malaysia Ubah Sejarah Indonesia

Temuan Arkeologi Di Malaysia menemukan sebuah peradaban baru. Menurut profesor dari Universitas Oxford, Inggris, temuan ini bisa jadi mengubah sejarah Asia Tenggara. Sejarah, kata dia, harus ditulis ulang. "Berdasarkan penemuan itu kita harus menulis ulang sejarah. Sebab, selama 2.000 tahun, sejarah mengklaim dominasi Indonesia--dengan Kerajaan Sri Wijaya dan Majapahit, juga Thailand dan Vietnam. Tapi kini itu berubah," kata Profesor Stephen James Oppenheimer, seperti dimuat laman Bernama, Senin, 5 Juli 2010.

Pernyataan tersebut disampaikan terkait temuan peradaban baru, Lembah Bujang oleh tim peneliti Universiti Sains Malaysia (USM).

USM menemukan sebuah situs industri peralatan besi di Lembah Bujang, yang diyakini dibangun di era Kedah Tua. Ini menunjukkan bahwa peradaban Malaysia lebih tua dari pada yang diperkirakan sebelumnya.

Tak hanya peradaban maju yang dilengkapi industri peralatan besi, ukuran peradaban Lembah Bujang juga jauh lebih besar, meliputi 1.000 kilometer persegi, atau tiga kali ukuran Pulau Penang, Malaysia.

Temuan ini menurut Oppenheimer tak hanya penting bagi Malaysia, tapi juga Asia Tenggara. Sebab, menunjukkan bukti adanya struktur monumental dan peradaban maju yang meliputi eksploitasi bijih besi dari pegunungan lokal, juga peleburan besi.

Sementara, Dr. Susan Jane Allen dari Institut Riset Arkeologi Internasional di Honolulu, Hawaii, mengaku sangat tertarik dengan temuan di Lembah Bujang, khususnya keberadaan bangunan prasejarah di Sungai Batu.


Allen, yang terlibat dalam penggalian beberapa situs sejarah--situs 71, 72, dan 73--di Sungai Batu tiga dekade lalu, meyakini ada sesuatu yang tersembunyi di balik situs-situs itu.

"Aku tahu ada sesuatu di bawah gundukan itu, aku sangat ingin mengetahuinya.  Pada saat itu, wilayah ini merupakan perkebunan karet, dan 71 adalah Situs gundukan sekitar 75 cm di atas tanah," kata dia.

Terpisah, Direktur Pusat Penelitian Arkeologi USM, Dr. Mokhtar Saidin mengatakan laporan ilmiah temuan Lembah Bujang akan dipublikasikan dalam jurnal internasional, untuk mendapat pengakuan dari arkeolog internasional.(vivanews)


Berlangganan via email

Ingin Artikel Terbaru Langsung ke Email anda? Masukan Email Untuk Berlangganan:


Delivered by FeedBurner

Recent Comments



Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini (Info Blog)